Dorong Ketahanan Pangan di Masa Pandemi, LDII Sulsel Gelar Pelatihan Hidroponik

Dorong Ketahanan Pangan di Masa Pandemi, LDII Sulsel Gelar Pelatihan Hidroponik
Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MAKASSAR, MarhamahNews – Di masa pandemi covid-19 saat ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan pangan. Masyarakat secara swadaya dapat mempraktikkan cara bercocok tanam secara hidroponik untuk membudidakan sayur-sayuran. Hasil panen selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, juga dapat dijual.

Dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan pelatihan hidroponik. Pelatihan hidroponik yang diikuti utusan peserta dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII se-Sulawesi Selatan dilaksanakan di Pendopo Pondok Pesantren Roudhotul Jannah, Jalan Berua Raya, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (18/10/2020).

Kegiatan yang bertajuk “Mendukung Ketahanan Pangan di Sulawesi Selatan” ini diikuti 50-an peserta dari kabupaten/kota DPD LDII se-Sulawesi Selatan. Tampil sebagai pemateri Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar Dr Ir Abri MP. Juga sebagai pemateri, mahasiswa magister Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Muh Yasir Alfarisy SP. Adapun Muh Yasir Alfarisy SP adalah alumni Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar.

Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan Dr Ir Abri MP menyampaikan, cara bercocok tanam hidroponik cocok diterapkan dalam masa pandemi covid-19. Terutama cocok dikembangkan di kawasan perkotaan.

Pihaknya baru saja membuat instalasi rak hidroponik berbahan pipa paralon. Panjang pipa sekitar 3 meter. Pipa tersebut disusun bertingkat sebanyak 6 susun. Investasi awal tidak terlalu besar. Hanya sekitar Rp 2 jutaan. “Tetapi bisa dimanfaatkan sampai 5-10 tahun. Harapan kita, setiap bulan bisa menghasilkan dan bisa memenuhui kebutuhan sayur-sayuran,” kata Abri sebagai pemateri pelatihan.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan melaksanakan pelatihan hidroponik di Pendopo Pondok Pesantren Roudhotul Jannah, Jalan Berua Raya, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (18/10/2020).

Sayur-sayuran yang bisa ditanam secara hidroponik antara lain kangkung dan selada. Apalagi masyarakat membutuhkan sayur-sayuran dan buah-buahan. Hasil panen bisa memenuhi kebutuhan keluarga. “Mengurangi ketergantungan pada biaya kebutuhan sayur-sayuran. Kita bisa menghemat. Selain itu, juga dapat memberi pelayanan pada masyarakat,” ungkap dosen pertanian ini.

Usai mendengarkan materi yang disampaikan Muh Yasir Alfarisy, S.P, peserta pelatihan mengunjungi 2 lokasi. Lokasi pertama adalah kediaman Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan Dr. Ir. Abri, M.P. Di lokasi ini peserta pelatihan menyaksikan instalasi rak hidroponik.

Setelah itu, peserta pelatihan berkunjung ke lokasi budidaya tanaman sayuran dengan sistem hidroponik di Kompleks Perumahan Dewi Karmilasari RT 5 RW 3, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Di lokasi ini, para peserta mendengarkan penjelasan teknik pembibitan dari pemilik usaha hidroponik.

Di lain pihak, Wanhat DPW LDII Sulawesi Selatan, KH Suwarto, SE MM mengatakan, perihal urusan pangan sangatlah penting. Bahkan, stabilitas suatu negara terwujud bila bisa mencapai ketahanan pangan. Kebijakan DPP LDII dalam Rapimnas salah satunya adalah mengangkat soal ketahanan pangan dan pengembangan pengobatan herbal. “Maka program ini kita wujudkan hingga ke PC, PAC, dan masyarakat umum sebagai bentuk kontribusi kita kepada negara,” ungkap saat menyampaikan sambutan.

Teknologi pertanian senantiasa berkembang. Termasuk hidroponik yaitu menanam tanaman dengan media air dan nutrisi tanaman adalah sebuah inovasi pertanian modern. “Mari kita pelajari ilmunya hingga terampil,” ajaknya.

Dengan inovasi teknologi hidroponik, maka pekarangan rumah, sekolah, masjid, bisa lebih hijau, indah, asri, dan produktif. “Terutama di kota. Meskipun tdk ada lahan luas, tapi kita masih bisa bertani,” ujarnya.

Hidroponik bila dipraktikkan secara serius, bisa berpotensi ekonomi. Hasilnya dapat dikonsumsi sendiri dan bisa dijual sebagai sayur organik yang harganya lebih mahal. “Diharapkan pelatihan ini bisa memberikan keterampilan untuk diaplikasikan di daerah masing-masing. Sehingga secara total menjadi sebuah gerakan positif untuk membangun kemandirian dan ketahanan pangan,” katanya.

Selanjutnya, tentang pengembangan tanaman obat-obatan herbal juga perlu kita kembangkan. Pekarangan rumah bisa kita tanami dengan bermacam-macam tanaman obat. “Seperti jahe, kencur, kunyit, serai, temulawak, dan sambiloto. Semua bisa ditanam untuk mengisi pekarangan rumah. Cara tanamnya bisa dengan polibag yang diisi dengan media tanam,” tutupnya. (rls)

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Arfan

Arfan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *