Opini : Ternyata, Covid-19 Bisa Menggerogoti Dunia dan Akhirat

Oleh Muhammad Afrizal

Penyelenggara Zakat Dan Wakaf

Kemenag Kab. Takalar

Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) mewabah hampir di seluruh negara dibelahan dunia ini, oleh WHO virus ini ditetapkkan sebagai Pandemi Internasional, virus ini tidak lagi mengenal batas teritorial, berawal dari sebuah Kota bernama Wuhan virus ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia, tidak hanya di Kota-kota besar bahkan sampai ke pelosok. Tidak juga mengenal Suku dan Ras, virus ini bahkan sudah terdeteksi di pedalaman terpencil yang dihuni oleh suku Amazon yang hidup jauh terisolir dari hiruk pikuk dunia, virus ini pun tidak mengenal keyakinan dan aliran kepercayaan yang dianut umat Manusia. Sehingga siapa saja, kapan dan dimana saja Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) adalah musuh bersama, kita harus berikhtiar melakukan upaya pencegahan covid-19 dan bersama kita putus mata rantai penyebarannya.

Sosial/Physical Distancing adalah upaya masif dalam mencegah penyebaran virus karena aksi ini pada prinsipnya adalah pencegahan untuk tidak tertular dan tidak menularkan sehingga ketika kita sadar akan realitas ini maka kesadaran secara personality sesungguhnya adalah bentuk kepedulian sosial. Terlebih saat kita dianjurkan untuk tidak berjabat tangan sebahagian orang malah menganggap hal ini akan mengancam adat ketimuran dan memutus silaturrahim, ini mungkin salah kaprah, bukankah kita bersaudara dan harus saling menjaga dalam kebaikan atas nama Manusia dan Kemanusiaan. Patut kita waspada karena disinyalir banyak fenomena Orang Tanpa Gejala (OTG), dimana virus sudah bersarang akan tetapi tidak menimbulkan gejala klinis bisa saja disebabkan imunitas yang baik sehingga tampak sehat-sehat saja tapi bisa menyebabkan tertularnya orang-orang yg berinteraksi secara langsung dengannya.

Masalah terus berlanjut, akibat dari pembatasan ruang aktifitas dan akses sosial muncullah pesoalan demi persoalan baru, anak-anak dipulangkan dari Sekolah, Pegawai berkantor dari rumah atau Work From Home (WFH), beberapa karyawan swasta malah dirumahkan alias diPHK, nampaknya virus ini betul-betul merusak sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat. Beban pemerintah semakin berat disaat harus melakukan pembatasan sosial dan disaat bersamaan juga harus menjamin kelangsungan hidup masyarakatnya, belum lagi perilaku segelintir orang yang terpapar kepanikan sosial dan berefek secara psikologis yang menimbulkan rasa takut dan cemas lalu kemudian semakin diperparah dengan kesalahan dalam memilih cara untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan berlebihan tersebut, sebutlah misalnya perilaku membeli barang dalam jumlah besar ato menimbun beberapa kebutuhan pokok yang disebut dengan Panic Buying. Ketimpangan sosial pun semakin menjadi-jadi, beberapa barang menjadi langka, antrian panjang di kasir terjadi di tempat-tempat perbelanjaan, harga mengalami kenaikan berlipat ganda untuk barang-barang tertentu yang mempunyai spesifikasi (baca: berhubungan dengan) Corona baik yang akan digunakan untuk perlindungan fisik maupun yang akan dikonsumsi karena dianggap ampuh untuk menangkal virus.

Pada hakekatnya virus ini tidak seberbahaya yang kita bayangkan, hanya saja wabah ini datang beriringan dengan musuh laten dunia maya berupa suguhan informasi-informasi yang mengandung berita bohong dan tidak bertanggung jawab alias Hoax yang semakin memperkeruh suasana, ditengah Obesitas Informasi para pelaku sosial media mengalami penurunan daya kritis dan kehilangan proses Tabayyun dalam menerima dan sharing informasi sementara pengetahuan kita tentang virus ini juga sangat minim. Untungnya kecendrungan sosial media yg tidak produktif ini cepat berbalik ke arah yg lebih positif, entah dari mana awalnya tiba-tiba kita mendapati suguhan media yang sudah sedikit lebih kreatif, mulai dari berbagai tantangan untuk saling menggali sisi baik dari personality sahabat maya kita, tantangan untuk menghiasi dunia dengan postingan keceriaan sampai pada akses informasi yang lebih edukatif dan dapat menghilangkan kecemasan sosial.

Saat gencar-gencarnya Pemerintah memberlakukan Sosial/Physical Distancing dan anjuran untuk di rumah saja, masyarakat diperhadapkan pada sebuah dilema antara mematuhi anjuran Pemerintah dengan tuntutan untuk membuat dapur tetap berasap.

Dilema belum berhenti, kegaduhan sosial kembali berguncang saat akses spiritual masyarakat pun ikut dibatasi, umat beragama diharapkan untuk membatasi diri mendatangi tempat-tempat ibadah, bahkan Pemerintah bersama otoritas Lembaga keagamaan menyerukan penghentian ibadah secara berjamaah. Setelah beberapa tempat Ibadah khususnya Masjid dan Mushalla menghentikan aktifitas berjamaah sebagai bentuk ketaatan terhadap Ulama dan Umara ternyata tidak demikian halnya dengan aktifitas perekonomian yang masih tetap terlihat aktif. Dari sini mulai terdengar lirih suara para aktifis Masjid bahwa “kenapa mesti Masjid ditutup sementara ruang-ruang publik tempat transaksi ekonomi masih bergeliat”, secara perlahan perbincangan dan perdebatan tentang penutupan tempat Ibadah memenuhi ruang-ruang publik dan menjadi trending Medsos. Kredibilitas Ulama dipertarukan, Dalil-dalil rujukan Al Qur’an dan Hadits pun ikut mewarnai diskursus seruan tersebut, kisah dan nukilan Sejarah pada Masa Nabi dan Para Sahabat pun di kisahkan kembali untuk saling menguatkan argumentasi atas sikap dan respon yang beragam dalam Internal Umat Islam. Setelah kepanikan sosial melanda kini giliran kegamangan spiritualitas menambah deretan panjang masalah yang muncul akibat Covid-19, kegamangan disebabkan pergulatan bathiniyah yang belum menemukan jawaban atas rasa rasionalitas keberagamaan Masyarakat.

Kegalauan Spritualitas

Menarik untuk membahas secara spesifik dari keseluruhan tulisan ini tentang suasana bathin keberagamaan Masyarakat terkhusus Umat Islam dalam mengarungi Bulan Ramadhan, Ramadhan kali ini dipastikan berbeda dengan Tahun-Tahun sebelumnya karena Tahun ini kita berada di Bulan Suci dalam situasi Darurat Covid-19, Umat Muslim di Bulan Ramadhan meluapkan kegembiraan dengan memaksimalkan Ibadah untuk menggapai Keberkahan, Ampunan dan Ridha Allah SWT, namun harapan untuk mengekspresikan sikap keberimanan melalui ritual keagamaan harus terbatasi ditengah upaya bersama mencegah penyebaran virus yang sedang mewabah. Banyangan untuk Sahur on The Road, Buka puasa bersama, Tarwih Berjamaah harus dipendam untuk sementara waktu.

Situasi seperti ini menyiratkan kesedihan yang mendalam khususnya bagi mereka yang mempersiapkan Ramadhan Tahun ini sebagai momentum Spiritual Come Back, raut kesedihan Masyarakat itu kemudian semakin terasa saat mereka masih mendengar suara Adzan akan tetapi terhalang untuk mendatangi Masjid, dalam hati mereka berkecamuk rasa dan kerinduan Transenden yang membuat keberagamaan Masyarakat mengalami Kegalauan Spiritualitas.

Sejenak kita merenung, mencoba untuk mengurai kegamangan atau kegalauan spiritual Masyarakat, jika sampai detik ini kita harus melabrak pembatasan sosial karena terdesak dengan tuntutan untuk memenuhi sisi kemanusiaan kita untuk tetap bisa bertahan hidup dengan beraktifitas mencari makan dan minum yang notabene bersifat duniawi sedangkan disaat bersamaan kita tidak ke Masjid seharusnya tidak membuat kita gamang dan galau. Interaksi sosial atau transaksi sosial adalah pemenuhan kebutuhan secara timbal balik atau dua arah. Konsumen membutuhkan produsen demikian sebaliknya produsen punya kebutuhan yang sama terhadap konsuman. Secara sederhana dapat kita gambarkan bahwa pembeli butuh penjual dan penjual membutuhkan adanya pembeli dengan satu tujuan yang sama yaitu sama-sama untuk kelangsungan hidup, seperti itulah roda kehidupan terus berputar.

Sementara pemenuhan Ukhrawi kita tidaklah demikian, Masjid/Mushalla tidak serta merta bisa dibandingkan dengan tempat-tempat publik yang lain karena tempat Ibadah seperti Masjid adalah tempat untuk menyalurkan kebutuhan spiritual Manusia dalam komunikasi lafadz dan gerak ritual penghambaan kepada Sang Maha Pencipta, maka dalam hal Ibadah hanya Manusialah yang butuh kepada Tuhannya, untuk mendatangi Tuhan Masjid bukanlah satu-satunya tempat yang kita butuhkan, kita tidak boleh terjebak dalam pemenuhan kuantitas dan entitas Ibadah dibalik semua itu ada kualitas yang bisa kita pertaruhkan.

Bukankah dengan berjamaah di Masjid mendatangkan derajat yang lebih dibanding shalat dirumah ?, jawabannya ya, tapi bukankah pula bahwa dengan ke Masjid dan berjamaah itu menyisakan ruang riya yang setiap saat bisa menggerogoti kualitas Ibadah, betapa tidak kita menyangsikan hal tersebut sementara kita setiap Tahun disuguhi pemandangan berjamaah dalam jumlah yang banyak hanya saat Ramadhan datang dengan ritual yang sunnah sementara setiap hari jamaah shalat wajib tak kunjung bertambah malah berkurang. Maka Covid-19 datang merefleksi sikap keberimanan atau keshalehan individual.

Bukankah hidangan buka puasa yang kita suguhkan di Masjid mendatangkan pahala yang sama dengan pahala puasa orang yang berbuka ?, jawabannya ya, tapi bukankah pula penyedia buka puasa yang diumumkan malam sebelumnya menyisakan ruang riya yang akan menggerus nilai Ibadah, saat covid-19 datang saatnya kita suguhkan hidangan berbuka door to door tanpa harus ada yang tahu keshalehan sosial kita.

Pada akhirnya, sudah saatnya kita datangi Allah dalam kesendirian, akhirkan Shalat Tarawih menjadi Tahajjud, ini saat yang tepat untuk mengasah keikhlasan kita dalam beribadah dan pada saatnya nanti Ibadah yang kita lakukan tidak lagi butuh legalitas sosial. Demikianlah Allah mempergantikan Kematian dan Kehidupan, bukan untuk mencari kuantitas ‘amal akan tetapi kualitas ‘amal perbuatan (Ahsanu ‘Amala).

Sudah sekian lama manusia disibukkan dengan ritual semata, kini saatnya kita break down dan menguji ritualitas untuk melahirkan sensitivitas kemanusiaan. Apakah ketika wabah membatasi akses Ibadah, masihkah kita tetap mendatangi Allah dalam keterasingan dari jamaah, atau malah Ramadhan kali ini kita telah tergerus secara kuantitas dan kualitas sekaligus, sungguh Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah menggerogoti sisi Duniawi dan Ukhrawi.

 

 

Arfan

Arfan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *