Buka Pelatihan Pemulasaran Jenazah Covid-19, Kakan Kemenag Berharap Tidak Sampai Pada Pelaksanaan di Lapangan

Buka Pelatihan Pemulasaran Jenazah Covid-19, Kakan Kemenag Berharap Tidak Sampai Pada Pelaksanaan di Lapangan
Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bantaeng, MarhamahNews – Sebagai upaya mengantisipasi kondisi terburuk yang dapat terjadi akibat pandemi Covid-19, Pemerintah Kab. Bantaeng melalui RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu mengambil langkah-langkah persiapan dengan menggelar Pelatihan Pemulasaran Jenazah Korban Covid-19 bagi petugas Medis RSUD berkerjasama dengan Kantor Kementerian Agama Kab.Bantaeng. (Senin, 20/4/20)

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kakan Kemenag Bantaeng Dr. H. Muhammad Yunus, M.Ag didampingi Direktur RSUD, dr. H. Sultan., M.Kes. Turut hadir Kepala Seksi Bimas Islam Kantor Kemenag Bantaeng Drs. H. M. Ribi, MM

Kegiatan ini diikuti sebanyak 10 orang tenaga medis/para medis RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu dengan Narasumber berasal dari Kantor Kementerian Agama Kab. Bantaeng Ust.H.Abd.Khaliq P. S.PdI.,M.PdI dan Ust.Hj.Harmiyah Hadi, S.Ag yang merupakan tokoh sekaligus praktisi penyelenggaraan jenazah di masyarakat.

Menurut Dr. H. Muhammad Yunus dalam arahannya sebelum membuka pelatihan secara resmi, bahwa sebagaimana jenazah-jenazah umum lainnya, ada kewajiban yang sama yang harus dipenuhi kepada korban covid-19, mulai dari pemandian, pengkafanan, penshalatan hingga penguburan, meskipun Kakan Kemenag berharap dan berdo’a pelatihan yang dilaksanakan di Gedung Kaili dan di kamar Jenazah RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu ini tidak sampai pada pelaksanaan di lapangan.

Kakan Kemenag mengatakan jenazah yang dinyatakan positif Corona ata covid-19 tetap dapat dimandikan. Proses pemandian dapat dilakukan tanpa melepaskan pakaian hingga ditayamumkan.

“Proses pemandian jenazah covid-19 tidak perlu mesti harus dilepas baju. Proses memandikan jika dmungkinkan dilakukan proses pengucuran air ke seluruh tubuh, tetapi jika tidak dimungkinkan, agama memberikan kelonggaran atau kemudahan dengan cara ditayamumkan,” ucapnya

“Tetapi jika tidak juga dimungkinkan untuk proses pemandian dan juga ditayammunkan karena pertimbangan keamanan atau pertimbangan teknis lainnya, maka dimungkinkan untuk kemudian langsung dikafankan*. Tambahnya.

Kemudian Dr. H.M. Yunus mejelaskan jenazah minimal harus disalatkan oleh 1 atau 2 orang karena menurutnya ini merupakan kewajiban yang bersifat fardhu kifayah yang artinya kewajiban yang terwakilkan, dan apabila penshalatan ini tak dapat dilaksanakan karena pertimbangan tertentu maka menurutnya proses penshalatan jenazah covid-19 ini dapat dilaksanakan setelah proses penguburan atau dengan melaksanakan shalat ghaib dirumah.

Dan kewajiban yang terakhir terhadap jenazah covid-19 sebagaimana jenazah umum lainnya adalah penguburan. Dan menurut Kakan Kemenag, jika keempat kewajiban atas jenazah covid-19 ini dilaksanakan sesuai fatwa atau protap yang telah ditetapkan, maka kita tidak perlu khawatir wabah virus korban covid-19 ini akan menular kepada yang hidup. Imbuhnya.

Dalam hal kondisi tertentu, Kakan Kemenag menyatakan siap menurunkan para penyuluh agama di setiap Kecamatan untuk menjadi relawan. Pungkasnya.

Laporan : Mahdi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Arfan

Arfan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *